Jumat, 27 Juli 2012

” Nyanyian sendu ”


Seraut tirai senja menyapa penuh duka
Hanya kenangan pahit yang menyulam bara
Segenggam perasaan sepertikata
Yang tlah terpatahkan akan sebuah haluan
Renta kian mendayung dalam kelemahan
Rinai senja pun masih terlihat disana

Dengarlah kasih…
Engkau lah duri dalam sepiku
Engkau lah anggan yang tak terbaca hati
Biarlah kisah tergulir bersama waktu

Biarlah luka tergurit sendiri
Kala senyum terkapar tak bernyali
Kala senja menjemput kepedihan
Dalam hati insan ini

Semua terasa hampa
Semua terasa hilang
Semua tertulis dalam keranda waktu
Sayup bumi pun menyerukan ” Nyanyian sendu ”


” Ku Puja Rindu Kasih ”


Lentik jemari telah lukiskan
Sang dewi rembulan malam
Sejenak mata terbuai lelap
Akan paras pesonanya yang
Sangat terlihat merona…

Teduh mata berseri wajah
Akan cinta yang telah menjamah
Di dalam sanubari dengan perlahan
Dan menghembuskan
Nafas teriklhasnya….

Gemintangnya purnama malam
Membuka sejuta lembar kenangan
Yang sangat mengesankan
Dan masih menggumpal
Bersama serpihan-serpihan
Di dalam relung hati….

Ku puja rindu kasih di sepanjang waktuku
Dengan segenap ketulusan hati
Meskipun kian samar dan tak bertapak
Seiring bergulirnya waktu….

” Ketulusan Hati ”



Harus berapa kali lagi
Hatimu kan ku ketuk
Hingga dirimu benar-benar
Mendengarkan rintihan hati
Sang pengagung cinta

Lunglaiku tak mungkin berkaca
Menghias hati selagi
Lelahku masih mengharapkan
Manisnya secawan madu rasa
Dari aroma rasa sensasi kalbumu

Meskipun hadirmu hanyalah
Sebuah pemacu hariku namun
Semerbakmu menjadikan
Sebuah pondasi yang kokoh
Di sepanjang masa

Kasih…
Bila datangmu tak kan pernah kekal
Biarkanlah ku ukir namamu di dalam
Bilik dinding hatiku
Berhiaskan ke tulusan hati
Dari sang pemuja cinta

” Engkaulah Duri Dalam Sepiku ”


Semilir angin membuatku
Selalu hanyut dalam lamunan
Silih berganti sunyi dan ramaiku
Seiring bergulirnya sang waktu

Diamku bagaikan arca dengan
Di penuhi seribu bisu di sela
Sang waktu yang kerap
Mempertandingkan antara
Sepi dan ramaiku….


Andai saja….
Aku terlahir dari tetesan
Air matamu pasti ku kan selalu
Ada di pipimu hingga matipun
Akan berada di dalam pangkuanmu

Dan seandainya…..
Engkau terlahir dari tetesan
Air mataku ku kan bendung
Air mataku dengan harapan tak
Akan ada tetesan air mata yang
Akan jatuh dan hilang dari hidupku

Andai saja engkau tahu
Jauh di dalam sudut hatiku masih
Ada sebagian naluriku yang
Sebagian habis termakan masa
Masa yang berbalut keindahanmu
Yang selalu berkata….
Engkaulah duri di dalam sepiku

Hingga sunyipun selalu
Hinggapi malam-malamku
Dengan menyerukan tembang
Merana sang pencinta dalam kesunyian
Yang berkepanjangan

Kalimah demi kalimah telah
Ku lantunkan dan sirat ke dalam puisi
Kesedihan meskipun tak seindah
Karya puisi ternama yang selalu
Kau puja selama ini….

Semoga dengan aksara ini
Engkau akan tahu pahit dan
Getirnya rasa ini…..
Sunyi dan sepinya hati ini
Saat tak berada di dekatmu
Sang jelita………

”Takkan Mungkin”




Bagaimana mungkin aku
Bisa menghapus raut wajahmu
Bila di setiap sudut malam jelma
Bayangmu selalu membinar
Di bawah temaramnya purnama

Bagaimana mungkin aku
Bisa menghapus namamu
Sedangkan isyarat fikir ini
Selalu ter ukir indah namamu
Seiring gulirnya sang waktu

Rentaku hanya bisa mendayuh
Pilu di kala menyilamnya sosok
Pelipur lara di dalam tepian
Relung hati yang kian serasa rapuh

Duka lara hati tak mungkin
Ku pungkiri meskipun kerap
Derain air mata selalu mengisak
Ketika hati tak mampu
menyimbabnya

Dengan sebuah pena dan selembar
Kertas ku aksarakan semua bisikan
Sehingga bait-bait puisi selalu
Ku jadikan tempat penampung
Kegundahanku selama ini

Semoga dengan aksaraku ini
Engkau bisa peka terhadap rasa
Sehingga jiwa yang di rundung pilu dapat
Engkau sambangi bersama
Sejuta ribaan kasih sayangmu

” Akhir Penantian ”


Hanya jika mataku terbuka
Ku kan bangun dari tidur panjangku
Namun kehadiranmu membuwatku
Terjaga selalu……

Meskipun itu semua hanya
Aroma rasa sensasi kalbumu
Yang selalu berhembusan
Di sampingku…..

Hingga sunyiku kian terasa
Menari-nari di relung hati dengan
Penuh kesenduan kala kalbku
Di rundung rindu kasih

Kini…
Asa hanya jadi debu terserak
Akan kerahyanganmu yang kian
Menghempaskan jalinan kasih
Dalam hamparan buana

Hingga hati kecilpun kian berbisik :
Di manakah nuranimu ?
Yang dahulu pernah mengasihi
Sepenggal jiwa ini…..
Di manakah engkau sembunyikan
Rona pesona wajahmu ?
Wajah yang selalu menghiasi
Di setiap hari-hariku…..

Haruskah aku mengakhiri
Hari Penantian panjang ini ?
Haruskah aku melepaskan
Hakikat cinta ini ?


” Madu Rindu ”


Perlahan lembayung malam
Mendayung rindu kasih
Perih mengikis tepian hati
Menyilamnya bayang wajahmu
Di dalam temaramnya malam

Nestapa menjamah penjuru kalbu
Membakar asa dalam nurani
Nyanyian sendu isakkan tangis
Mengenang silam sejarah kasih
Di dalam hening malam

Kejora yang tak pernah teraba
Meskipun kerlipnya bintang
Melukiskan cinta dari kekasih hati
Yang telah ku puja selama ini
Di dalam siang dan malamku

Tersiksa batin tak bertepi
Meskipun keindahan wajahmu
Menjelma nyata membuai
Di dalam pelupuk mata sudutku

Biarlah ku reguk semua
Madu rindu dengan pahit
Dan getirnya rinduku padamu
Selama ini…………

Selasa, 24 Juli 2012

Sang Penyair


Hari itu ……………………………..!
Ku duduk seorang diri
menatap jauh ,menembus gelapnya malam
mencari seberkas sinar yang dahulu padam
termakan rayuan sang pendusta alam

Ku buka dan kucari kian kemari.
Lembaran memori yang lari ketepian kali.
ku coba menarik kembali
kendatipun susah…………………………
ku tetap gigihnya tak mau kalah.

waktu itu…………………………..
jiwaku rapuh.
terpesona ucapan sang pujangga pengukir kata
semuanya lenya entah kemana
hilang daya,hilang perkara
tak lagi nampak dipelupuk mata.

itulah hebatnya sang penyair
mengukir kata merangkai basa
tiada menjadi ada.
adapun ada menjadi tiada.
hilangkan noda ,hilang cela.
lenyapnya termakan untaian kata pemadu rasa.

syairnya manis.
menutup pahitnya ampedu
ucapanya indah, menutup kerusakan jiwanya.
itulah dia ………………..
penakluk mahkota penghias tahta.


Ketika hatimu bertanya tentang lompatan waktu..
maka kalimat itu ialah SIAPA AKU…??
masih aku ingat ketika tatapmu memandang sabar kesia-siaan cinta..
dimana lantun kisahnya hanya berisi keindahan konyol dari jiwa-jiwa yang dicandu asmara…

Kendati logika senantiasa menyapa..
namun hati kerap memenangkan dan menjaga agar goresan cerita tetaplah ada..
namun waktu adalah keniscayaan…
dimana putarannya mengikis hati..menghukum laku yang terdiam tanpa isi..

Lalu sekali lagi cinta tak segan untuk meminta..
menuntut janji dari sang waktu..
atau mungkin bergegas meninggalkan AKU yang tertinggal oleh lompatan waktu..

AKU dalam pembaringan lelahku…
masih menanti lantun munajatku runtuhkan kesombongan waktu..
untuk kemudian memunguti asa demi asa..dan melafadzkan bahwa cinta bukanlah tentang SIAPA AKU..

“kumulai catatan ini dengan mengingatmu dihujan lebih dari 5 tahun yg lalu…”

Jumat, 20 Juli 2012

Perubahan




Ku hanya diam…
Diam mengikuti waktu yang terus berjalan…
Mengikuti lekuk wadah yang tengadah…
Mengikuti desiran angin yang berhembus…


Tapi.,
Kini semuanya berubah…
Aku tak dapat hanya diam saja…
Selama cahaya masih terang…
Selama jalan masih berliku…
Semakin banyak pula rintangan yang kan menghadang…


Kini ku terus berjalan…
Berjalan, walau terkadang ku harus berlari…
Tanpa arah dan tujuan…
Ku tak pernah putus asa tuk mencari…
Mencari dan terus mencari…
Tanpa lelah ku terus mencari…
Walau harus ku lewati jurang yang terjal…
Ataupun harus menaiki tebing yang amat tinggi…


Tak ada kata menyerah…
Masa depan jauh lebih berat…
Masa depan adalah tantangan yang harus dihadapi dengan sebuah tekat dan keberanian diri…

Puisi Sisa Goresan Namamu



Di dalam senyapnya malam
Aku terdampar menunggu mimpi yang indah
Mungkin dengan bidadari
Atau sisa goresan nama dari masa lalu

Tak adakah kaitan kata yang lebih indah dari namamu
Yang bisa diucapkan hati dan lidahku
Hingga aku harus menanam sendiri
Mahkota berduri di dalam isyaratku

Setiap kali fajar menyambut dunia
Setiap itu pula bisikan namamu hadir mengusik ku
Mencampurkan rindu dan kesakitan menjadi dua sisi mata uang
Dua perasaan yang tersimpan sunyi di namamu

Haruskah hidupku kini dan esok masih ditemani puing namamu
ENTAHLAH
Kadang aku bahagia
Tapi derita tak kalah pedih menyerangku

Semoga senja yang bersahaja ini
Bisa menuliskan goresan nama yang lain
Yang bukan lagi untuk dikenang . . . , ,