Rabu, 15 Februari 2012

Nisan Sang Pujangga



Sinar senja begitu merahnya
Seakan langit terluka bersama sang pujangga
Berlumur darah karyanya tertulis
Dalam kertas lusuh yang terakhir
Yang terakhir….

Bersandar di nisannya
Ia terbata mengkhayalkannya
Sinar mata sang putri tidur
Yang kini terbangun
Mengutuk gelapnya petang

Gemetar memandang bayangnya
Kecantikan poros tubuh
Dan indahnya rambut cermin bulan
Betapa mengerikannya…
Keindahan yang mencabut nyawa

Dengan kata bertinta darah
Entah bukan dendam ia tuliskan
Meski luka yang ia dapatkan
Begitu dalam….

Kata terakhir….
Hanya berupa sebaris frasa
Dan siapa pun ngeri membayangkannya
Sebuah frasa menjadi tanya
Pantaskah ini semua

Hanya demi sebuah frasa
Hilang sudah sebuah nyawa
Bukan dongeng sayang
Meski lelap karya ini
Membawamu ke alam mimpi
Tak seindah itu…
Hanya sepi sendiri…..

Sabtu, 11 Februari 2012

Aku yang Selalu Terpasung Waktu


kosong dan hanya kosong saja…
tak ada gejolak seperti dulu?
tak apa..aku tetap disini
seperti dulu..
dengan segala letupan rinduku
… dengan semua pekikan sayangku
padamu…
aku dengan segala egoku
yang tak pernah bisa mengertimu
aku memang pengecut
aku tak berguna
aku memang terlalu berharap
tuk slalu dalam dekapanmu
tapi aku mengerti
itu tak mungkin
waktu dan keadaan
kembali jadi “pasungan” tergetir
dalam hidupku
aku yang selalu merindukan
waktu indah dan bahagia
saat bersamamu..
sejujurnya memang hanya boleh dalam mimpi
aku tak berhak sama sekali

Tuhan…kenapa Kau tampar aku berkali kali
dengan pasungan waktu dan keadaan ini?
kenapa Kau selalu benturkan aku
pada waktu dan keadaan..
tiap kali aku coba tersenyum
tiap kali aku merasa nyaman
Kenapa Nyaman dan bahagia selalu Kau renggut
dari hidupku
tiap kali..selalu terenggut….
apa aku tak pantas?
apa aku terlalu nista tuk merasakan nyaman dan bahagia?
Tuhan..kalau memang benar..
cabut saja urat senyum dari mukaku
matikan saja syaraf nyaman dari rasaku
buang nadi bahagia dari tubuhku
biar makin lengkap getir dan pekat di hari hariku…