| Zahra, kupetik jeruk-jeruk mungil di kebunmu lalu mataku tersesat pada sela jemarimu pada alunan suaramu pada senar gitar akustikmu tangga bagi tatap dari jari hingga rona Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta Tatap yang kutancap jadi kesiap pada jemarimu sejenak lagumu terhenti jemari yang tak lagi lekat pada gitar, cengkrama denganku pelan kutelusuri remasmu parasmu Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta Ketika rinai berderai dan pekat menyekat lorong esde satu kencan kita tanpa sengketa cerita akan diri akan duri hanya lengan yang berlabuh di bahumu ketika kita sambung jalan talaga bodas dari ujung ke-ujung D an tiada kulihat matamu mengucap cinta Telah kusebut Bandung adalah perang tak berujung lalu kubimbing desahku menghirup napas Wanaraja tatapmu jadi perangkap akupun lelap dalam dekap dalam kecup Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta Wanaraja yang asri, nyatanya penjara sepi tak terperi lantas kupacu diriku menerjang juang tak kunjung reda hendak kulupa matamu tanpa cinta hendak kulunak detak yang menghentak hendak kukatupkan kuak yang menggerit namun rindu tiada terperabu meronta dan perkasa dari jauh terulur matamu mengusap hanjuku kuhadapkan tatap padamu tiada rasaku terbias dimensi kala dan antar Dan tiada kulihat matamu mengucap cinta. |
Jumat, 13 April 2012
Tiada Kulihat Matamu Mengucap Cinta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar